ELECTROCONVULSIVE THERAPY UNIT
- Get link
- X
- Other Apps
ELECTROCONVULSIVE
THERAPY UNIT
Oleh
Isa Chairul Imam Ramdani
P22040123026
D3 TEKNIK ELEKTROMEDIK
Pengertian Electroconvulsive Therapy
Berdasarkan etimologi electroconvulsive
berasal dari gabungan kata dalam bahasa Inggris yaitu “electro” yang berarti
listrik dan “convulsive” yang berarti kejang. Jadi dapat disimpulkan
bahwa electroconvulsive adalah penggunaan listrik untuk memicu kejang-kejang. Dalam bidang medis, istilah
ini sering digunakan untuk merujuk pada terapi elektrokonvulsif (ECT). Electroconvulsive Therapy (ECT) adalah sebuah
terapi stimulasi otak menggunakan aliran listrik untuk memberikan efek kejang
pada pasien yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit psikiatrik atau
gangguan mental.
Sejarah Electroconvulsive Therapy
ECT digagaskan padan tahun 1930
kemudian ditemukan pada tahun 1934 dan mulai dikembangkan pada tahun 1938 dan
telah sangat berubah dengan berjalannya waktu seiring perkembangan teknologi
yang semakin maju. Sejarah ECT dimulai pada tahun 1930 dimana dokter psikiatri
sedang mencari gagasan untuk terapeutik nonfarmakologis pada pasien psikiatri.
Segala hal telah dicoba, seperti hidroterapi dengan air dingin atau direndam
dalam waktu yang lama di dalam air, dengan terapi tidur yang lama, dan sebagainya.
Pada tahun 1934, Ladislas Joseph von
Meduna, seorang neuropsikiatri asal Hungaria melakukan eksperimen pertama,
yaitu mengobati pasien skizofrenia dengan menginduksi kejang yang berulang.
Hasil observasi pasien tersebut menyatakan bahwa pasien dengan kejang memiliki
sifat proteksi terhadap gejala psikotik,
dan dengan meninduksi kejang pada pasien skizofrenia akan mengurangi gejala
psikotik yang dialami. Namun observasi lanjut mendapatkan bahwa ECT tidak
efektif untuk skizofrenia, melainkan lebih efektif untuk pengobatan penyakit
psikiatri dengan gejala nonpsikotik,
Prinsip Kerja Electroconvulsive Therapy
ECT bekerja dengan cara melepaskan
tegangan listrik ke otak. Aliran listrik tersebut akan menyebabkan perubahan
kimiawi pada otak yang akan mengurangi gejala penyakit psikiatri yang diderita.
Stimulasi kejang dilakukan dengan
mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan tepat di atas lobus
temporal. ECT dilakukan dengan menempatkan elektroda bilateral di atas
lobus temporalis pada pasien yang berbaring terlentang tanpa bantal. Stimulus
listrik diberikan setelah dilakukan tindakan anestesi. Arus listrik kecil sebesar
70-120 volt dialirkan pada otak setiap 0.5 – 8 detik. Target stimulus adalah
kejang terapeutik terkontrol dengan durasi 30‒60 detik. Selama kejang, dilakukan monitoring tanda vital
dengan EKG dan EEG.
Aliran listrik yang dialirkan memicu
perubahan kimiawi di otak, terutama pada neurotransmitter seperti serotonin,
norepinefrin, dan dopamine. Neurotransmitter ini berperan penting dalam
mengatur suasana hati, tidur, nafsu makan, dan fungsi kognitif lainnya.
Perubahan kimiawi ini dapat membantu memperbaiki ketidakseimbangan
neurotransmitter yang sering terjadi pada kondisi depresi. Aliran listrik ini pun
dapat mengaktifkan sirkuit otak tertentu yang terlibat dalam regulasi suasana
hati seperti korteks prefontal dan sistem limbik yang dapat membantu mengurangi
gejala depresi seperti perasaan sedih yang mendalam, kehilangan minat, dan
energi yang rendah. Selain itu, terapi ini dapat memicu neuroplasticity, yaitu
kemampuan otak untuk membentuk koneksi saraf baru. Hal ini dapat membantu otak
untuk pulih dari kerusakan yang disebabkan oleh depresi dan membangun kembali
sirkuit yang sehat.
Jenis-jenis Electroconvulsive Therapy
Electroconvulsive Therapy (ECT) dibagi menjadi 2 jenis
yaitu ECT konvensional dan ECT pre-medikasi (ECT monitor). ECT konvensional merupakan
metode ETC lama sedangkan ECT pre-medikasi merupakan metode ETC modern yang
lebih efisian. Berikut perbedaan antara kedua ETC tersebut :
|
Jenis |
ECT Konvensional |
ECT Pre-medikasi (ECT Monitor) |
|
Alat |
Konvulsator sederhana, tidak menggunakan monitor. |
MECTA (Monitor Electro Convulsive Therapy Apparatus), lebih mutakhir
dengan monitor. |
|
Operator |
4 orang |
3 orang |
|
Obat Premedikasi |
Tidak ada |
Ada |
|
Efek Samping |
Lebih berat (luksasio mandibula, fraktur vertebra, perubahan tekanan
darah, komplikasi kardiovaskular) |
Lebih ringan (kehilangan memori jangka pendek, sakit kepala, mual) |
|
Kontraindikasi |
Lebih banyak |
Lebih sedikit |
Indikasi Penggunaan Electroconvulsive Therapy
Ada 2 faktor yang digunakan sebagai indikasi penggunaan
ECT, pertama indikasi diagnostik dimana ECT efektif, dan kedua waktu penggunaan
ECT
1.
Indikasi Diagnostik
a.
Gangguan mood
·
Gangguan depresi berat dengan atau tanpa gejala
psikotik
·
Mania
b.
Gangguan isi piker
·
Skizofrenia
·
Skizoafektif
c.
Gangguan psikiatrik lain
·
Distimia
·
Anxietas
·
Penggunaan obat-obatan terlarang
·
Gangguan makan
d.
General medical disorder
·
Neuroleptic malignant syndrome
·
Parkinson’s desease
·
Hipopituitarisme
2.
Waktu penggunaan ECT
a.
Primer
·
Ketika sangat dibutuhkan respon penanganan yang
cepat.
·
Ketika ECT memberikan faktor risiko yang lebih
rendah dibandingkan pengobatan lain.
·
Ketika pasien memiliki riwayat respon terapi
yang baik terhadap pengobatan dengan ECT.
·
Ketika pasien sangat menginginkan pengobatan
dengan terapi ECT
b.
Sekunder
c.
Pada anak dan remaja, jarang dilakukan terapi ECT
karena sedikitnya penelitian tentang terapi ECT pada anak dan remaja. Sehingga
terapi ECT pada anak harus dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter yang
lebih berpengalaman. Tetapi beberapa penelitian mengatakan bahwa ECT pada anak
memberikan hasil yang sama dengan ECT padan dewasa.
d.
Pada orang tua, terapi ECT dikatakan relatif aman dan
diutamakan untuk penanganan depresi usia tua.
e.
Pada ibu-ibu dengan depresi kehamilan
Kontra Indikasi Penggunaan Electroconvulsive Therapy
Kontraindikasi adalah
suatu kondisi atau faktor yang membuat suatu pengobatan atau prosedur medis
tidak dapat dilakukan atau tidak dianjurkan karena risiko komplikasi yang lebih
tinggi atau efek samping yang merugikan. Berikut adalah kontra indikasi penggunaan ECT :
1. Resiko
sangat tinggi
a. Pasien
dengan masalah pernapasan berat yang tidak mampu mentolerir efek anestesi umum.
b. Peningkatan
tekanan intracranial (karena tumor otak, hematoma, stroke yang berkembang,
aneurisma yang besar, infeksi SSP)
c. Infark
Miokard baru atau penyakit miokard berat
2. Resiko
sedang
a. Osteoartritis
berat, osteoporosis atau fraktur yang baru
b. Penyakit
kardiovaskuler (misal hipertensi, angina aneurisma/ Angina tidak terkontrol,
aritmia, Gagal jantung kongestif)
c.
Infeksi berat, cedera serebrovaskular
(Cerebrovascular accident/ CVA) baru, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus
peptic yang akut, Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal
detachment.
Prosedur Electroconvulsive Therapy Unit
1. Persiapan Pasien
Pasien diberi anestesi umum untuk
membuat mereka tidak sadar selama prosedur dan obat relaksan otot untuk
mencegah gerakan fisik yang berlebihan. Ini memastikan bahwa pasien tidak
merasakan sakit dan meminimalkan risiko cedera selama kejang.
2. Monitoring Tanda Vital
Pasien dipasangi monitor untuk
mengawasi tanda-tanda vital seperti detak jantung, tekanan darah, dan saturasi
oksigen. Monitoring ini penting untuk memastikan bahwa pasien tetap dalam
kondisi stabil selama prosedur.
3. Penempatan Elektroda
Elektroda ditempatkan di kulit
kepala pasien. Penempatan ini bisa bilateral (di kedua sisi kepala) atau
unilateral (di satu sisi kepala), tergantung pada diagnosis dan keputusan
klinis.
4. Pengaturan Alat ECT
Dokter mengatur alat ECT untuk
memberikan dosis arus listrik yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Dosis ini
diatur berdasarkan berbagai faktor termasuk usia, kondisi kesehatan, dan
respons pasien terhadap terapi sebelumnya.
5. Pemberian Arus Listrik
Alat ECT mengirimkan arus listrik
kecil melalui elektroda ke otak selama beberapa detik. Arus listrik ini
menstimulasi otak dan menginduksi kejang yang terkontrol, yang berlangsung
sekitar 30-60 detik. Kejang ini merupakan inti dari terapi ECT dan diyakini
berkontribusi pada efek terapeutiknya.
6. Pemulihan Pasca Prosedur
Setelah kejang berhenti, pasien
dipindahkan ke ruang pemulihan. Di sini, pasien diawasi sampai efek anestesi
hilang dan mereka sadar kembali. Tanda-tanda vital terus dipantau untuk
memastikan pemulihan yang aman.
7. Pemantauan Efek Samping
Setelah prosedur, efek samping
sementara seperti kebingungan, sakit kepala, atau nyeri otot dapat terjadi.
Pasien biasanya diawasi hingga kondisi stabil dan efek samping mereda.
Penggunaan alat ECT membutuhkan
koordinasi tim medis yang terdiri dari psikiater, anestesiolog, perawat, dan
teknisi ECT. Prosedur ini biasanya dilakukan beberapa kali dalam satu seri
pengobatan, tergantung pada respons pasien dan rekomendasi medis.
Efek Samping Penggunaan Electroconvulsive Therapy
ECT
merupakan terapi yang beresiko dan memiliki efek samping baik ringan hingga
serius. Efek samping dapat disebabkan prosedur anastesi atau akibat kejang yang
distimulus. Beberapa efek samping antara lain:
- Kebingungan setelah terapi,
dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam.
- Hilangnya ingatan, sebagian
besar pasien yang menjalani ECT akan mengalami amnesia retrograde atau
kesulitan mengingat kejadian sebelum pemberian terapi dimulai.
- Efek samping fisik seperti
mual, muntah, nyeri rahang, nyeri otot, atau sakit kepala.
- Efek samping medis seperti menyebabkan
timbulnya gangguan jantung yang serius karena selama terapi stimulus
jantung meningkat ditandai dengan denyut jantung dan tekanan darah yang
meningkat.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments


assalamualaikum
ReplyDeleteterimakasih atas informasinya
ReplyDeleteterimakasih artikelnya sangat membantu
ReplyDeleteArtikelnya keren banget
ReplyDeleteKeren
ReplyDeleteKeren
ReplyDeleteSangat membantu
ReplyDeletekeren,terimakasih👍
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletesangad informatif
ReplyDeleteSangat membantu
ReplyDeletethank you
ReplyDeletebagus
ReplyDeleteSangat bermanfaat
ReplyDeletePenjelasan yg sangat detail 👍
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletesangat membantu👍
ReplyDeleteIlmu yang bermanfaat
ReplyDeletewow
ReplyDeletekalo tidak ada artikel ini saya tidak mungkin bisa
ReplyDeleteWah sangat menarik
ReplyDeleteterimakasih informasinya
ReplyDeleteGudd, sangat bermanfaat
ReplyDeletebaguss
ReplyDeletegood👍🏻
ReplyDeletenicee🫰🏻
ReplyDeletecakepp
ReplyDeleteKeren mas, sangat bermanfaat 🫰
ReplyDeleteKeren 👍👍
ReplyDeleteBagus terimakasih sangat informatif dan bermanfaat
ReplyDeleteIlmu mahal
ReplyDeleteSangat bermanfaat
ReplyDeleteCakepp amat
ReplyDeletemewah, manja, kelas banget artikelnya
ReplyDeleteKerenn, sangat membantu
ReplyDeleteKeren, terimakasih
ReplyDeleteSangat membantu dan bermanfaat
ReplyDeletesangat keren dan luar biasa
ReplyDelete👍👍👍
ReplyDeletekeren
ReplyDeletekeren sekali
ReplyDeletekeren betul
ReplyDeletemadepp
ReplyDeletesangat membantu
ReplyDeleteTerima kasih penjelasannya
ReplyDeletesangat rinci
ReplyDeleteBagus infonya
ReplyDeletekeren broo
ReplyDeleteThankyou
ReplyDeleteNice explaination
ReplyDeleteBagus
ReplyDeleteArtikel menarik
ReplyDeleteMudah untuk di pahami
ReplyDeleteJelas dan menarik
ReplyDeleteWah masuk ke teknologi tinggi ya alat ini di peralatam terapi, thank you infonya👍🏻
ReplyDeleteJadi makin tahu tentang alat ini, thanks infonyaa
ReplyDeletematerinya sangat bermanfaat
ReplyDeletebagus,sangat membantu
ReplyDeletesangat bermanfaat, terima kasih
ReplyDeleteSungguh menarik
ReplyDeletesangat informatif dan membuka wawasan
ReplyDeletemenarik dan bermanfaat
ReplyDeleteInformasi yang sangat bagus
ReplyDeletemateri yang menarik
ReplyDeleteKerenn ilmunyaa
ReplyDeleteBagusss sekali. Artikel yang bagus, membantu pembelajaran mahasiswa elektromedik
ReplyDeletesangat informatif
ReplyDeleteAlat yang bermanfaat 👍
ReplyDeleteSangat membantu
ReplyDeletegood job
ReplyDelete