Standar Elektromedik Yang Menjadi Pilar Utama Keamanan dan Efisiensi Layanan Kesehatan Modern

Standar Elektromedik Yang Menjadi Pilar Utama Keamanan dan Efisiensi Layanan Kesehatan Modern Di rumah sakit, kita mungkin sering melihat berbagai alat canggih yang digunakan dokter untuk membantu menyelamatkan nyawa mulai dari alat pacu jantung, CT-scan, hingga mesin USG. Semua alat ini termasuk dalam kategori alat elektromedik, yaitu alat medis yang menggunakan tenaga listrik atau elektronik. Tapi, pernahkah kita berpikir: apakah alat-alat itu sudah sesuai standar? Siapa yang memastikan bahwa alat tersebut digunakan oleh orang yang tepat dan terlatih? Inilah mengapa standar dalam pelayanan elektromedik menjadi sangat penting. Tanpa standar yang jelas, keselamatan pasien bisa terancam. Untuk itulah, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 65 Tahun 2016 mengatur tentang standar pelayanan elektromedik yang berkualitas dan aman. Apa Itu Elektromedik? Elektromedik merupakan salah satu bidang penting dalam dunia kesehatan yang berfokus pada penggunaan alat medis berbasis teknologi lis...

ELECTROCONVULSIVE THERAPY UNIT

ELECTROCONVULSIVE THERAPY UNIT

Oleh

Isa Chairul Imam Ramdani

P22040123026

D3 TEKNIK ELEKTROMEDIK

Pengertian Electroconvulsive Therapy

    Berdasarkan etimologi electroconvulsive berasal dari gabungan kata dalam bahasa Inggris yaitu “electro” yang berarti listrik dan “convulsive” yang berarti kejang. Jadi dapat disimpulkan bahwa electroconvulsive adalah penggunaan listrik untuk memicu kejang-kejang. Dalam bidang medis, istilah ini sering digunakan untuk merujuk pada terapi elektrokonvulsif (ECT).  Electroconvulsive Therapy (ECT) adalah sebuah terapi stimulasi otak menggunakan aliran listrik untuk memberikan efek kejang pada pasien yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit psikiatrik atau gangguan mental.

Sejarah Electroconvulsive Therapy

            ECT digagaskan padan tahun 1930 kemudian ditemukan pada tahun 1934 dan mulai dikembangkan pada tahun 1938 dan telah sangat berubah dengan berjalannya waktu seiring perkembangan teknologi yang semakin maju. Sejarah ECT dimulai pada tahun 1930 dimana dokter psikiatri sedang mencari gagasan untuk terapeutik nonfarmakologis pada pasien psikiatri. Segala hal telah dicoba, seperti hidroterapi dengan air dingin atau direndam dalam waktu yang lama di dalam air, dengan terapi tidur yang lama, dan sebagainya.

            Pada tahun 1934, Ladislas Joseph von Meduna, seorang neuropsikiatri asal Hungaria melakukan eksperimen pertama, yaitu mengobati pasien skizofrenia dengan menginduksi kejang yang berulang. Hasil observasi pasien tersebut menyatakan bahwa pasien dengan kejang memiliki sifat proteksi terhadap gejala  psikotik, dan dengan meninduksi kejang pada pasien skizofrenia akan mengurangi gejala psikotik yang dialami. Namun observasi lanjut mendapatkan bahwa ECT tidak efektif untuk skizofrenia, melainkan lebih efektif untuk pengobatan penyakit psikiatri dengan gejala nonpsikotik,

Prinsip Kerja Electroconvulsive Therapy

            ECT bekerja dengan cara melepaskan tegangan listrik ke otak. Aliran listrik tersebut akan menyebabkan perubahan kimiawi pada otak yang akan mengurangi gejala penyakit psikiatri yang diderita. Stimulasi kejang dilakukan dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan tepat di atas lobus temporal. ECT dilakukan dengan menempatkan elektroda bilateral di atas lobus temporalis pada pasien yang berbaring terlentang tanpa bantal. Stimulus listrik diberikan setelah dilakukan tindakan anestesi. Arus listrik kecil sebesar 70-120 volt dialirkan pada otak setiap 0.5 – 8 detik. Target stimulus adalah kejang terapeutik terkontrol dengan durasi 3060 detik. Selama kejang, dilakukan monitoring tanda vital dengan EKG dan EEG.

            Aliran listrik yang dialirkan memicu perubahan kimiawi di otak, terutama pada neurotransmitter seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamine. Neurotransmitter ini berperan penting dalam mengatur suasana hati, tidur, nafsu makan, dan fungsi kognitif lainnya. Perubahan kimiawi ini dapat membantu memperbaiki ketidakseimbangan neurotransmitter yang sering terjadi pada kondisi depresi. Aliran listrik ini pun dapat mengaktifkan sirkuit otak tertentu yang terlibat dalam regulasi suasana hati seperti korteks prefontal dan sistem limbik yang dapat membantu mengurangi gejala depresi seperti perasaan sedih yang mendalam, kehilangan minat, dan energi yang rendah. Selain itu, terapi ini dapat memicu neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk membentuk koneksi saraf baru. Hal ini dapat membantu otak untuk pulih dari kerusakan yang disebabkan oleh depresi dan membangun kembali sirkuit yang sehat.

Jenis-jenis Electroconvulsive Therapy

            Electroconvulsive Therapy (ECT) dibagi menjadi 2 jenis yaitu ECT konvensional dan ECT pre-medikasi (ECT monitor). ECT konvensional merupakan metode ETC lama sedangkan ECT pre-medikasi merupakan metode ETC modern yang lebih efisian. Berikut perbedaan antara kedua ETC tersebut :

Jenis

ECT Konvensional

ECT Pre-medikasi (ECT Monitor)

Alat

Konvulsator sederhana, tidak menggunakan monitor.

MECTA (Monitor Electro Convulsive Therapy Apparatus), lebih mutakhir dengan monitor.

Operator

4 orang

3 orang

Obat Premedikasi

Tidak ada

Ada

Efek Samping

Lebih berat (luksasio mandibula, fraktur vertebra, perubahan tekanan darah, komplikasi kardiovaskular)

Lebih ringan (kehilangan memori jangka pendek, sakit kepala, mual)

Kontraindikasi

Lebih banyak

Lebih sedikit

Indikasi Penggunaan Electroconvulsive Therapy

            Ada 2 faktor yang digunakan sebagai indikasi penggunaan ECT, pertama indikasi diagnostik dimana ECT efektif, dan kedua waktu penggunaan ECT

1.      Indikasi Diagnostik

a.       Gangguan mood

·         Gangguan depresi berat dengan atau tanpa gejala psikotik

·         Mania

b.      Gangguan isi piker

·         Skizofrenia

·         Skizoafektif

c.       Gangguan psikiatrik lain

·         Distimia

·         Anxietas

·         Penggunaan obat-obatan terlarang

·         Gangguan makan

d.      General medical disorder

·         Neuroleptic malignant syndrome

·         Parkinson’s desease

·         Hipopituitarisme

2.      Waktu penggunaan ECT

a.       Primer

·         Ketika sangat dibutuhkan respon penanganan yang cepat.

·         Ketika ECT memberikan faktor risiko yang lebih rendah dibandingkan pengobatan lain.

·         Ketika pasien memiliki riwayat respon terapi yang baik terhadap pengobatan dengan ECT.

·         Ketika pasien sangat menginginkan pengobatan dengan terapi ECT

b.      Sekunder

c.       Pada anak dan remaja, jarang dilakukan terapi ECT karena sedikitnya penelitian tentang terapi ECT pada anak dan remaja. Sehingga terapi ECT pada anak harus dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter yang lebih berpengalaman. Tetapi beberapa penelitian mengatakan bahwa ECT pada anak memberikan hasil yang sama dengan ECT padan dewasa.

d.      Pada orang tua, terapi ECT dikatakan relatif aman dan diutamakan untuk penanganan depresi usia tua.

e.       Pada ibu-ibu dengan depresi kehamilan

Kontra Indikasi Penggunaan Electroconvulsive Therapy

            Kontraindikasi adalah suatu kondisi atau faktor yang membuat suatu pengobatan atau prosedur medis tidak dapat dilakukan atau tidak dianjurkan karena risiko komplikasi yang lebih tinggi atau efek samping yang merugikan. Berikut adalah kontra indikasi penggunaan ECT  :

1.      Resiko sangat tinggi

a.       Pasien dengan masalah pernapasan berat yang tidak mampu mentolerir efek anestesi umum.

b.      Peningkatan tekanan intracranial (karena tumor otak, hematoma, stroke yang berkembang, aneurisma yang besar, infeksi SSP)

c.       Infark Miokard baru atau penyakit miokard berat

2.      Resiko sedang

a.       Osteoartritis berat, osteoporosis atau fraktur yang baru

b.      Penyakit kardiovaskuler (misal hipertensi, angina aneurisma/ Angina tidak terkontrol, aritmia, Gagal jantung kongestif)

c.       Infeksi berat, cedera serebrovaskular (Cerebrovascular accident/ CVA) baru, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus peptic yang akut, Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal detachment.

Prosedur Electroconvulsive Therapy Unit

1.      Persiapan Pasien

            Pasien diberi anestesi umum untuk membuat mereka tidak sadar selama prosedur dan obat relaksan otot untuk mencegah gerakan fisik yang berlebihan. Ini memastikan bahwa pasien tidak merasakan sakit dan meminimalkan risiko cedera selama kejang.

2.      Monitoring Tanda Vital

            Pasien dipasangi monitor untuk mengawasi tanda-tanda vital seperti detak jantung, tekanan darah, dan saturasi oksigen. Monitoring ini penting untuk memastikan bahwa pasien tetap dalam kondisi stabil selama prosedur.

3.      Penempatan Elektroda

            Elektroda ditempatkan di kulit kepala pasien. Penempatan ini bisa bilateral (di kedua sisi kepala) atau unilateral (di satu sisi kepala), tergantung pada diagnosis dan keputusan klinis.

4.      Pengaturan Alat ECT

            Dokter mengatur alat ECT untuk memberikan dosis arus listrik yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Dosis ini diatur berdasarkan berbagai faktor termasuk usia, kondisi kesehatan, dan respons pasien terhadap terapi sebelumnya.

 

5.      Pemberian Arus Listrik

            Alat ECT mengirimkan arus listrik kecil melalui elektroda ke otak selama beberapa detik. Arus listrik ini menstimulasi otak dan menginduksi kejang yang terkontrol, yang berlangsung sekitar 30-60 detik. Kejang ini merupakan inti dari terapi ECT dan diyakini berkontribusi pada efek terapeutiknya.

6.      Pemulihan Pasca Prosedur

            Setelah kejang berhenti, pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Di sini, pasien diawasi sampai efek anestesi hilang dan mereka sadar kembali. Tanda-tanda vital terus dipantau untuk memastikan pemulihan yang aman.

7.      Pemantauan Efek Samping

            Setelah prosedur, efek samping sementara seperti kebingungan, sakit kepala, atau nyeri otot dapat terjadi. Pasien biasanya diawasi hingga kondisi stabil dan efek samping mereda.

            Penggunaan alat ECT membutuhkan koordinasi tim medis yang terdiri dari psikiater, anestesiolog, perawat, dan teknisi ECT. Prosedur ini biasanya dilakukan beberapa kali dalam satu seri pengobatan, tergantung pada respons pasien dan rekomendasi medis. 

Efek Samping Penggunaan Electroconvulsive Therapy

            ECT merupakan terapi yang beresiko dan memiliki efek samping baik ringan hingga serius. Efek samping dapat disebabkan prosedur anastesi atau akibat kejang yang distimulus. Beberapa efek samping antara lain:

  1. Kebingungan setelah terapi, dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam.
  2. Hilangnya ingatan, sebagian besar pasien yang menjalani ECT akan mengalami amnesia retrograde atau kesulitan mengingat kejadian sebelum pemberian terapi dimulai.
  3. Efek samping fisik seperti mual, muntah, nyeri rahang, nyeri otot, atau sakit kepala.
  4. Efek samping medis seperti menyebabkan timbulnya gangguan jantung yang serius karena selama terapi stimulus jantung meningkat ditandai dengan denyut jantung dan tekanan darah yang meningkat.

 


Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Penjelasan yg sangat detail 👍

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. kalo tidak ada artikel ini saya tidak mungkin bisa

    ReplyDelete
  5. Bagus terimakasih sangat informatif dan bermanfaat

    ReplyDelete
  6. mewah, manja, kelas banget artikelnya

    ReplyDelete
  7. Wah masuk ke teknologi tinggi ya alat ini di peralatam terapi, thank you infonya👍🏻

    ReplyDelete
  8. Jadi makin tahu tentang alat ini, thanks infonyaa

    ReplyDelete
  9. sangat informatif dan membuka wawasan

    ReplyDelete
  10. Bagusss sekali. Artikel yang bagus, membantu pembelajaran mahasiswa elektromedik

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Peran Strategis Tenaga Elektromedis dalam Sistem Kesehatan Nasional

Standar Elektromedik Yang Menjadi Pilar Utama Keamanan dan Efisiensi Layanan Kesehatan Modern