Terapi pada zaman keemasan islam
- Get link
- X
- Other Apps
Terapi Pada Zaman Keemasan Islam berdasarkan buku The Canon of Medicine karya Ibnu Sina
Oleh :
Isa Chairul Imam Ramdani
P2240123026
Ilmu kedokteran pada zaman
Keemasan Islam merupakan perpaduan dari berbagai tradisi ilmiah yang berkembang
sebelumnya, seperti Yunani, Persia, dan India. Tradisi Yunani, terutama melalui
karya Hippokrates dan Galen, memberikan dasar teori kedokteran, termasuk konsep
empat cairan tubuh (humor) yang mendasari keseimbangan kesehatan. Dari Persia,
sumbangan besar datang melalui teks medis seperti Zend-Avesta, yang
menggabungkan pendekatan holistik dalam perawatan kesehatan. Sementara itu,
dari India, pengaruh Ayurveda membawa pendekatan herbal yang kaya, serta
sistematika dalam pengobatan penyakit.
Zaman Keemasan Islam (abad
ke-8 hingga ke-13) menjadi masa di mana tradisi-tradisi ini diterjemahkan,
dikembangkan, dan diperkaya melalui para cendekiawan Muslim. Dengan pusat-pusat
ilmu seperti Baghdad dan Andalusia, ilmu kedokteran berkembang pesat, diiringi
inovasi dalam diagnosis, terapi, farmakologi, hingga pembedahan.
Di antara para ilmuwan yang berperan besar adalah Ibnu Sina (Avicenna), seorang filsuf dan dokter yang menulis karya monumental Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine). Karya ini menjadi rujukan utama di dunia kedokteran selama berabad-abad, baik di Timur maupun Barat.
Ibnu Sina dikenal sebagai "Bapak Kedokteran Modern" karena pendekatan sistematisnya terhadap ilmu kesehatan. Ia tidak hanya menyusun panduan diagnosis dan pengobatan tetapi juga memperkenalkan konsep baru dalam terapi, seperti pentingnya gaya hidup sehat, peran psikologi dalam penyembuhan, serta penggunaan terapi herbal secara presisi. The Canon of Medicine karya Ibnu Sina berisi pendekatan terapi yang tidak hanya mencakup pengobatan penyakit tetapi juga pencegahan penyakit melalui gaya hidup yang seimbang. Ibnu Sina mengintegrasikan pemikiran logis dengan praktik yang menekankan pada fakta, data dan penglaman langsung sehingga menjadikan terapinya relevan hingga saat ini.
Salah satu kontribusi penting adalah pendekatan terapi berbasis herbal yang disusun secara sistematis, di mana setiap ramuan dijelaskan secara rinci, termasuk sifat, dosis, dan penggunaannya. Ibnu Sina juga menyoroti pentingnya perawatan psikologis dalam terapi, menyadari hubungan erat antara pikiran dan tubuh dalam proses penyembuhan. Dengan demikian, tujuan pembahasan ini adalah untuk mengeksplorasi kontribusi Ibnu Sina dalam pengembangan terapi yang komprehensif, sebagaimana diuraikan dalam The Canon of Medicine, dan relevansinya bagi ilmu kedokteran modern.
Konsep Dasar Terapi Menurut Ibnu Sina
1.
Definisi Terapi dalam The Canon of Medicine
Dalam The
Canon of Medicine, Ibnu Sina mendefinisikan terapi sebagai serangkaian
upaya untuk mengembalikan keseimbangan alami tubuh. Ia menekankan bahwa tubuh
manusia memiliki kemampuan bawaan untuk menyembuhkan dirinya sendiri jika
didukung dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, terapi tidak hanya berfokus
pada penyembuhan gejala tetapi juga pada pengembalian harmoni tubuh melalui
pendekatan secara menyuluruh dengan memperhatikan semua aspek. Terapi menurut
Ibnu Sina melibatkan berbagai aspek, termasuk pengaturan pola makan, penggunaan
obat-obatan herbal, terapi fisik, hingga perawatan psikologis. Ia percaya bahwa kesehatan dan penyakit adalah bagian
dari spektrum yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti gaya
hidup, lingkungan, dan emosi.
Ibnu
Sina mengadopsi dan mengembangkan prinsip humoral yang pertama kali
diperkenalkan oleh Hippokrates dan Galen. Menurut teori ini, tubuh manusia terdiri atas empat
cairan utama (humor) yaitu darah, empedu kuning, empedu hitam, dan lendir. Keseimbangan
di antara keempat cairan ini menentukan kondisi kesehatan seseorang.
Dalam terapi, Ibnu Sina
menganalisis kelebihan atau kekurangan salah satu humor sebagai penyebab utama
penyakit. Ia kemudian merancang strategi terapi untuk mengembalikan
keseimbangan ini, seperti melalui diet tertentu, pengobatan herbal, atau
perubahan gaya hidup. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki
kelebihan empedu kuning (bersifat panas dan kering) mungkin disarankan untuk
mengonsumsi makanan yang bersifat dingin dan lembap.
2.
Kesehatan dan Penyakit Menurut Ibnu Sina
Ibnu
Sina mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan harmoni yang sempurna antara
tubuh dan jiwa. Ia memandang tubuh manusia sebagai sistem yang saling
berhubungan, di mana kesejahteraan fisik dan mental harus dijaga secara
bersamaan. Menurutnya, kesehatan bukan hanya ketiadaan penyakit, tetapi juga
kemampuan tubuh untuk berfungsi secara optimal dalam segala aspek kehidupan. Dalam konteks ini, terapi tidak hanya melibatkan
pengobatan fisik tetapi juga penguatan kondisi mental dan spiritual. Ibnu Sina
percaya bahwa pikiran yang sehat berperan besar dalam mempercepat penyembuhan
fisik, sehingga ia sering menyarankan meditasi, doa, atau pendekatan psikologis
lainnya sebagai bagian dari terapi.
Penyakit, menurut Ibnu Sina, adalah hasil dari ketidakseimbangan humor dalam tubuh. Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor internal, seperti pola makan yang buruk, atau faktor eksternal, seperti cuaca dan stres. Dalam The Canon of Medicine, ia mengelompokkan penyakit berdasarkan organ yang terkena dampak dan jenis ketidakseimbangan humor yang mendasarinya. Sebagai contoh, demam dijelaskan sebagai peningkatan panas tubuh akibat kelebihan empedu kuning. Untuk mengatasinya, Ibnu Sina merekomendasikan terapi pendinginan, seperti mengonsumsi makanan dan minuman yang bersifat dingin, serta menjaga lingkungan yang sejuk. Pendekatan ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman tentang sifat humor dan cara menyeimbangkannya dalam praktik terapi. Dengan teori dan praktiknya, Ibnu Sina tidak hanya menciptakan landasan yang kuat bagi ilmu terapi di zamannya, tetapi juga mewariskan prinsip-prinsip yang tetap relevan dalam pendekatan pengobatan modern.
Pendekatan
Terapi dalam The Canon of Medicine
1.
Terapi Preventif (Pencegahan)
Ibnu
Sina dalam The Canon of Medicine menekankan pentingnya menjaga
keseimbangan tubuh melalui pola makan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan
individu. Ia memperkenalkan konsep bahwa setiap orang memiliki kondisi tubuh
yang berbeda (temperamen atau mizaj), sehingga diet harus
disesuaikan untuk menjaga keseimbangan tersebut. Misalnya, individu dengan
temperamen panas dianjurkan mengonsumsi makanan yang bersifat dingin dan
lembap, seperti buah-buahan segar, untuk mencegah gangguan akibat panas
berlebih. Sebaliknya, orang dengan temperamen dingin membutuhkan makanan yang
bersifat hangat, seperti daging dan rempah-rempah. Ibnu Sina juga
memperingatkan tentang bahaya makan berlebihan, karena dapat membebani sistem
pencernaan dan menyebabkan berbagai penyakit.
Terapi preventif lainnya adalah menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik yang teratur. Menurut Ibnu Sina, olahraga membantu memperbaiki metabolisme tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan memperkuat otot serta organ tubuh. Namun, jenis dan intensitas olahraga harus disesuaikan dengan kondisi fisik individu untuk menghindari efek buruk. Tidur juga dianggap sebagai elemen penting dalam menjaga kesehatan. Ia menyebutkan bahwa tidur yang cukup membantu tubuh dalam proses regenerasi dan memelihara keseimbangan mental. Lingkungan yang sehat, seperti udara bersih, rumah yang terang, dan kebersihan pribadi, juga merupakan bagian dari langkah preventif untuk mencegah penyakit.
2.
Terapi Kuratif (Pengobatan)
Ibnu
Sina mengintegrasikan terapi kuratif berbasis bahan alami dalam The
Canon of Medicine. Ia menyusun katalog obat-obatan herbal yang sangat
lengkap, mencakup ratusan tanaman obat yang dijelaskan sifatnya, indikasi,
serta dosisnya. Contohnya, ia merekomendasikan penggunaan jahe untuk gangguan
pencernaan, madu untuk luka, dan kemenyan sebagai antiseptik. Selain herbal,
Ibnu Sina juga menggunakan mineral dan bahan alami lainnya, seperti belerang
untuk penyakit kulit dan merkuri untuk terapi tertentu. Pengobatan berbasis
bahan alami ini dirancang untuk mendukung penyembuhan tubuh secara alami tanpa
efek samping yang berlebihan.
Farmakoterapi atau penggunaan obat-obatan juga memainkan peran penting. Ibnu Sina memperkenalkan konsep bahwa obat harus diberikan berdasarkan analisis mendalam terhadap gejala dan penyebab penyakit. Ia juga memperhatikan interaksi antara obat dan tubuh, menekankan pentingnya dosis yang tepat untuk menghindari efek toksik.
Jenis-Jenis
Terapi yang Dijelaskan oleh Ibnu Sina
1. Terapi Dietetik (Nutrisi dan Pola Makan)
Ibnu
Sina dalam The Canon of Medicine menekankan bahwa makanan
bukan hanya sumber energi, tetapi juga alat penting untuk menjaga dan
memulihkan kesehatan. Ia menyebutkan bahwa makanan yang tepat dapat memperbaiki
ketidakseimbangan tubuh yang menjadi penyebab penyakit. Dengan memahami sifat
makanan, seperti panas, dingin, lembap, atau kering, seorang dokter dapat
merancang pola makan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Contoh
makanan untuk kondisi panas atau dingin tubuh :
- Kondisi Panas
Pasien
dengan gejala panas berlebih, seperti demam atau inflamasi, dianjurkan
mengonsumsi makanan yang bersifat dingin, misalnya semangka, selada, dan air
kelapa.
- Kondisi Dingin
Untuk
kondisi tubuh yang lemah dan dingin, Ibnu Sina merekomendasikan makanan seperti
daging kambing, rempah-rempah hangat (kayu manis, lada), dan madu untuk
meningkatkan energi.
2. Farmakoterapi (Obat-Obatan)
Ibnu Sina mengelompokkan obat-obatan ke dalam dua
kategori utama:
- Obat Sederhana
Obat yang berasal dari satu
bahan alami, seperti jahe, kunyit, atau lidah buaya. Obat ini digunakan untuk
gangguan ringan atau gejala spesifik.
- Obat
Majemuk
Obat
yang merupakan campuran dari beberapa bahan untuk menciptakan efek sinergis. Ibnu Sina memberikan panduan rinci tentang cara
mencampur bahan-bahan ini agar aman dan efektif.
Ibnu Sina percaya bahwa
pengobatan harus dimulai dengan langkah yang paling ringan. Jika penyakit dapat
diatasi dengan makanan atau perubahan gaya hidup, maka obat tidak diperlukan.
Namun, jika obat diperlukan, ia merekomendasikan penggunaan dosis kecil terlebih
dahulu untuk melihat respons tubuh. Ia juga memperingatkan terhadap penggunaan
obat yang terlalu kuat karena dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya.
3. Terapi Fisik
Ibnu Sina menjelaskan bahwa
panas dan dingin dapat digunakan secara terapeutik untuk meredakan berbagai
gangguan. Misalnya:
- Mandi air hangat yang membantu
meredakan nyeri otot, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi stres.
- Kompres dingin yang Efektif untuk
mengurangi pembengkakan, demam, atau nyeri akut.
Pijatan juga menjadi bagian
penting dari terapi fisik. Ibnu Sina merekomendasikan pijatan untuk
meningkatkan aliran darah, mengurangi ketegangan otot, dan membantu relaksasi.
Ia juga menjelaskan teknik pijatan tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien,
seperti pijatan ringan untuk relaksasi atau pijatan kuat untuk meredakan nyeri
dalam.
4. Terapi Psikologis
Ibnu Sina mengakui bahwa
kesehatan mental memiliki peran besar dalam proses penyembuhan. Ia
merekomendasikan musik sebagai terapi untuk menenangkan pikiran, mengurangi
kecemasan, dan memperbaiki suasana hati. Musik yang harmonis dianggap mampu
mengurangi ketegangan emosional dan membantu pasien merasa lebih rileks. Menurut
Ibnu Sina, emosi yang tidak terkendali, seperti kemarahan, kecemasan, atau
kesedihan mendalam, dapat menyebabkan gangguan fisik. Oleh karena itu, menjaga
keseimbangan emosional dianggap sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.
Ia menyarankan pasien untuk dikelilingi oleh lingkungan yang mendukung dan
suasana yang menenangkan sebagai bagian dari proses penyembuhan.
Kontribusi Ibnu Sina terhadap Praktik Terapi di Zaman
Keemasan Islam
1. Inovasi Terapi yang Diperkenalkan oleh Ibnu Sina
Salah
satu kontribusi terbesar Ibnu Sina adalah penyusunan ilmu kedokteran dalam
bentuk yang sistematis melalui The Canon of Medicine. Buku ini
terdiri dari lima volume yang mencakup:
- Prinsip-prinsip Dasar Kedokteran, tentang konsep
kesehatan, penyakit, dan keseimbangan tubuh.
- Farmakologi, tentang pengelompokan
obat-obatan berdasarkan sifat dan penggunaannya.
- Diagnosis dan Pengobatan Penyakit
Umum, tentang pendekatan medis untuk berbagai penyakit.
- Penyakit Khusus, tentang perawatan untuk
gangguan spesifik organ tubuh.
- Farmasi, tentang pengolahan dan resep
obat-obatan.
Ibnu
Sina menyusun terapi dengan prinsip logis, di mana setiap langkah didasarkan
pada analisis gejala dan penyebab penyakit. Sistematika ini memberikan panduan
yang jelas bagi dokter dalam praktik medis.
2.
Pengaruh Karyanya di Dunia Islam dan Eropa
Setelah
ditulis dalam bahasa Arab, The Canon of Medicine diterjemahkan
ke dalam bahasa Latin oleh Gerard of Cremona pada abad ke-12. Terjemahan ini
menjadi pintu masuk bagi dunia Barat untuk mengenal pemikiran kedokteran Ibnu
Sina. Buku tersebut
menjadi referensi utama di universitas-universitas Eropa, seperti Universitas
Salerno dan Universitas Montpellier.
Dalam
dunia Islam, The Canon of Medicine menjadi kurikulum standar
di berbagai madrasah dan bimaristan (rumah sakit). Karya ini tidak hanya
mengajarkan teori, tetapi juga praktik medis yang aplikatif. Di Eropa, The
Canon of Medicine dianggap sebagai otoritas tertinggi dalam ilmu
kedokteran hingga abad ke-17. Buku
ini menjadi pedoman utama untuk diagnosis, terapi, dan farmasi di kalangan
dokter. Pendekatan sistematisnya terhadap kesehatan dan pengobatan
memperkenalkan standar baru dalam praktik medis Barat.
Ibnu Sina juga memengaruhi
tokoh-tokoh besar dalam kedokteran Eropa, seperti Andreas Vesalius dan William
Harvey. Beberapa konsep Ibnu Sina, seperti hubungan antara kesehatan mental dan
fisik, tetap relevan bahkan di era modern. Dengan kontribusinya, Ibnu Sina
tidak hanya mengubah wajah kedokteran di dunia Islam, tetapi juga meletakkan
dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran global, menjadikan The Canon of
Medicine sebagai salah satu karya medis paling berpengaruh dalam
sejarah manusia.
Pengaruh Zaman Keemasan Islam terhadap Terapi
1. Peran Baitul Hikmah dalam Perkembangan Ilmu Terapi
Pada masa Keemasan Islam,
Baitul Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad menjadi pusat intelektual yang
memainkan peran besar dalam penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan,
termasuk kedokteran. Di bawah dukungan Dinasti Abbasiyah, karya-karya besar dari
Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh para sarjana
seperti Hunayn ibn Ishaq dan Al-Kindi. Karya-karya ini, termasuk tulisan
Hippokrates, Galen, dan Sushruta, tidak hanya diterjemahkan tetapi juga
dianalisis dan dikembangkan lebih lanjut. Dalam konteks terapi, pemikiran
Yunani tentang empat humor (darah, empedu kuning, empedu hitam, dan lendir)
diadaptasi dan diperluas dengan pendekatan holistik yang mencakup diet,
obat-obatan herbal, dan pencegahan penyakit. Integrasi ini
menciptakan dasar bagi teori kedokteran yang kemudian disempurnakan oleh Ibnu
Sina dalam The Canon of Medicine.
Filsafat
memiliki pengaruh besar terhadap kedokteran di dunia Islam. Para cendekiawan
seperti Ibnu Sina menggabungkan pemikiran filsafat Aristotelian dan Neoplatonik
dengan teori medis. Ia memandang kesehatan sebagai hasil dari keseimbangan
alami dalam tubuh, yang dipengaruhi oleh faktor internal (seperti emosi) dan
eksternal (seperti lingkungan). Pendekatan ini mencerminkan pandangan holistik
bahwa tubuh, pikiran, dan jiwa adalah satu kesatuan. Oleh karena itu, terapi
tidak hanya bertujuan mengobati gejala fisik tetapi juga memperhatikan
keseimbangan psikologis dan spiritual. Hal ini menjadi landasan bagi pendekatan
terapi yang melibatkan musik, suasana tenang, dan lingkungan sehat.
2.
Dukungan Dinasti dan Masyarakat terhadap Ilmu Kedokteran
Kemajuan
terapi dan kedokteran di Zaman Keemasan Islam tidak lepas dari dukungan para
penguasa. Dinasti Abbasiyah, misalnya, memberikan dukungan kepada ilmuwan
dengan mendirikan institusi seperti Baitul Hikmah dan bimaristan (rumah sakit).
Para khalifah, seperti Harun al-Rasyid dan Al-Ma'mun, mendorong penelitian
ilmiah dengan memberikan fasilitas dan dana kepada ilmuwan. Ibnu Sina sendiri
mendapatkan dukungan dari Dinasti Samanid dan Buyid, yang memungkinkan ia
mengembangkan pemikirannya dalam kedokteran dan terapi. Dukungan ini tidak hanya terbatas pada pendanaan
tetapi juga menciptakan budaya intelektual di mana para ilmuwan bebas bertukar
ide dan mengembangkan teori baru.
Bimaristan,
atau rumah sakit Islam, merupakan institusi kesehatan yang berkembang pesat
pada masa Keemasan Islam. Selain berfungsi sebagai tempat perawatan pasien,
bimaristan juga menjadi pusat pendidikan kedokteran. Di sana, para dokter tidak
hanya mempraktikkan pengobatan tetapi juga mengajarkan terapi kepada mahasiswa
kedokteran.
Ibnu
Sina mencatat bahwa rumah sakit di masa itu dilengkapi dengan berbagai
fasilitas, termasuk apotek, perpustakaan, dan ruang khusus untuk pasien yang
membutuhkan terapi psikologis. Pendekatan terapi yang diterapkan di rumah sakit
ini mencerminkan prinsip-prinsip yang ia tulis dalam The Canon of
Medicine. Dengan dukungan yang luas dari dinasti dan masyarakat, ilmu
kedokteran berkembang menjadi disiplin yang sistematis dan praktis. Pengaruh
Zaman Keemasan Islam terhadap terapi, seperti yang dicatat oleh Ibnu Sina,
memberikan dasar penting bagi perkembangan ilmu kedokteran modern, baik di
dunia Islam maupun Barat.
Kelebihan
Pendekatan Terapi pada Zaman Keemasan Islam
1.
Pendekatan Holistik
Pada zaman keemasan Islam, pendekatan terapi yang dikembangkan oleh para ilmuwan, termasuk Ibnu Sina, mencerminkan pandangan holistik terhadap kesehatan manusia. Dalam karyanya, The Canon of Medicine (Al-Qanun fi al-Tibb), Ibnu Sina menekankan bahwa kesehatan seseorang bergantung pada keseimbangan fisik, mental, dan spiritual.
a. Keseimbangan Fisik
Ibnu Sina mengidentifikasi bahwa tubuh manusia membutuhkan perawatan menyeluruh yang mencakup pola makan, olahraga, dan istirahat yang cukup. Dietetik, atau pengaturan pola makan, menjadi pilar utama dalam terapi fisik. Ia mengajarkan bahwa makanan bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga alat untuk menjaga dan memulihkan kesehatan.
b. Keseimbangan Mental
Selain fisik, kesehatan mental mendapatkan perhatian besar. Ibnu Sina percaya bahwa emosi seperti stres, kesedihan, atau kebahagiaan memiliki dampak langsung pada tubuh. Dalam The Canon of Medicine, ia menyarankan penggunaan terapi psikologis seperti meditasi, seni, dan musik untuk menenangkan pikiran serta meningkatkan suasana hati.
c. Keseimbangan Spiritual
Sebagai
seorang pemikir yang juga mendalami filsafat dan agama, Ibnu Sina melihat
hubungan erat antara kesehatan spiritual dan fisik. Ia merekomendasikan
refleksi diri, doa, dan keyakinan sebagai bagian penting dari pemulihan
kesehatan. Baginya, keseimbangan spiritual membantu seseorang menghadapi
penyakit dengan ketenangan dan optimisme.
2. Relevansi Prinsip Terapi Ibnu Sina di Masa Kini
Meski ditulis lebih dari
seribu tahun lalu, prinsip-prinsip terapi yang diuraikan oleh Ibnu Sina tetap
relevan hingga saat ini. Konsep-konsep seperti dietetik,
farmakoterapi, dan terapi fisik menjadi bagian integral dari praktik medis
modern.
a. Dietetik
dalam Era Modern
Ibnu
Sina menekankan pentingnya diet yang seimbang untuk menjaga kesehatan. Saat
ini, ahli gizi terus mengembangkan pendekatan berbasis ilmiah terhadap
pengaturan pola makan, yang sejatinya sejalan dengan prinsip dietetik yang
diuraikan dalam The Canon of Medicine.
b. Farmakoterapi
dan Pemanfaatan Herbal
Ibnu
Sina mengklasifikasikan ratusan bahan alami, termasuk tanaman obat, dan
menjelaskan penggunaannya dalam terapi. Metode ini menjadi cikal bakal
farmakologi modern. Saat ini, banyak penelitian ilmiah dilakukan untuk
mengeksplorasi potensi bahan herbal dalam pengobatan, seperti yang Ibnu Sina
praktikkan.
c. Terapi
Fisik sebagai Dukungan Penyembuhan
Ibnu
Sina menyarankan penggunaan pijat, olahraga, dan terapi air sebagai bagian dari
pendekatan penyembuhan. Di era modern, terapi fisik menjadi cabang penting
dalam kedokteran, digunakan untuk rehabilitasi pasien pascaoperasi, mengurangi
nyeri kronis, atau memperbaiki mobilitas.
Prinsip-prinsip
Ibnu Sina menunjukkan bahwa inovasi masa lalu tetap dapat menjadi inspirasi
bagi perkembangan ilmu kedokteran modern. Kombinasi pemahaman ilmiah dan
pendekatan holistik yang dia rintis terus memberikan kontribusi besar pada
kesehatan masyarakat hingga hari ini.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments








topiknya kerennn
ReplyDeleteassalamualaikum,sebelomnya terimakasih kepada pembuat artikel ini sangat membantu bagi saya pribadi,awalnya saya tidak mengerti apa itu terapi.
ReplyDeletedengan membaca ini saya jadi paham dan mengerti apa itu terapi dari zaman dulu,semoga yang membuat artikel ini mendapat berkah karna sudah membantu dan semoga bisa naik haji amin,
Artikelnya sangat bagus, serta penjelasannya sangat baik.Kerenπ
ReplyDeleteKeren min
ReplyDeleteKeren, lengkap banget
ReplyDeletesangat informatif, terimakasih atas penjelasannya
ReplyDeleteπππ
ReplyDeleteMasyaAllah
ReplyDeleteArtikelna bau parfum jalma solat jumaah, dasarna well π
ReplyDeleteMugia barokah elmuna, aamiin
Deletebagus dan mudah di mengerti
ReplyDeletemasyaallah tabarakallah
ReplyDeleteBermanfaat sekali
ReplyDelete